Jakarta CNN Indonesia -- Sebuah ledakan bunuh diri terjadi di dalam Masjid Syiah di Kabul, Afghanistan, Jumat (20/10) malam. Seorang pejabat keamanan setempat menyebut setidaknya 30 orang tewas dalam serangan tersebut. Ledakan bom di Kabul tersebut adalah yang terbaru dari serangkaian serangan kekerasan terhadap kelompok minoritas Syiah. TRIBUNVIDEO.COM - Bom meledak di sebuah masjid Syiah di kota Kandahar, Afghanistan selatan hari ini, Jumat (15/10/2021).. Ledakan besar terjadi saat salat Jumat sehingga menyebabkan banyak korban jiwa. Setidaknya 37 orang tewas dan 70 orang lainnya mengalami luka-luka. BomBunuh Diri Meledak di Masjid Syiah Afghanistan, 50 Orang Tewas Kabul - Sebuah serangan bom bunuh diri terjadi di sebuah masjid Syiah di Kunduz, Afghanistan. Sedikitnya 50 orang tewas dalam serangan paling berdarah sejak pasukan Amerika Serikat (AS) meninggalkan negara itu. PadaSabtu (16/10) lalu, masyarakat berkumpul untuk untuk menguburkan para korban di sebuah kuburan massal di kota Kandahar. Kepala Polisi Kandahar mengatakan pihaknya akan mengerahkan pasukan untuk melindungi masjid-masjid Syiah yang selama ini dijaga oleh pasukan sukarelawan setempat dengan izin khusus untuk membawa senjata. . 403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID BetZeKhaZ_Z6rxiyCdMaE06gw3XD2CDwVV_5YUxPb3AztuR4JchQ4Q== Pertumbuhan Mazhab Syi’ah Di Sumatera Utara, mazhab Ahlulbait baru terlihat tahun 1990-an, tetapi tidak berkembang sampai tahun 2000-an. Mazhab Syi’ah ini dianut keluarga Sayyid Syaiful Wathan al Mahdhali Sayyid Dede dan beberapa pengikutnya. Sayyid Dede ini pernah memiliki yayasan Ulul Albab di Lokseumawe. Komunitas Syi’ah masih ekslusif sampai tahun 2002, ketika Sayyid Dede pindah ke Kota Medan dan mendirikan yayasan Amali. Setelah Sayyid Dede meninggal tahun 2002, kegiatannya vakum, dan yayasan dikendalikan Habib Ubaidan al Habsy dan merubah nama yayasan menjadi Yayasan Ahlulbait Indonesia YABI. Sebelum Habib Ubaidan al Habsyi wafat muncul pula Yayasan Islam Abu Thalib yang didirikan oleh Candiki Repantu, Ahmad Parwes Indo Pakistan dan Naparo Afandi Lubis. Peresmian Yayasan Islam Abu Thalib dihadiri Prof. Dr. Ramli A. Wahid Dir. Paska UINSU, Prof Dr. Yasir Nasution Rektor UINSU, dan Ayatullah Ramdhani ulama Syi’ah Iran. Rizal, Ridwan, Hasan, dan Fadillah, wawancara, 21/5/2016Yayasan Islam Abu Thalib ini menjadi pusat pertumbuhan mazhab Syi’ah Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Aceh. Informasi terakhir di bulan Februari tahun 2018 pengurus Yayasan Islam Abu Thalib, telah berhasil menginisiasi berdirinya majelis taklim di 13 kabupaten kota di Provinsi Sumatra Utara. Sementara itu di Sumatra Barat dan Provinsi Aceh juga sudah berdiri beberapa majelis taklim anak-anak muda Syi’ah. Di yayasan inilah semua aktifis di Provinsi Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Provinsi Aceh berlabuh dan berkomitmen, setelah pencarian bertahun-tahun. Ada yang 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun bahkan puluhan tahun. Tidak ada penganut Syi’ah yang sudah Syi’ah sejak lahir, kecuali yang sekarang masih berumur 10 mazhab Syi’ah dilakukan dengan cara sering mengadakan pameran buku, diskusi di kampus-kampus besar dan meningkatkan jumlah buku yang beredar. Pengajian rutin dan terbuka terus dilakukan. Pekerjaan mereka umumnya adalah mahasiswa, pedagang, dosen, guru, dokter atau lainya dan menjadi generasi pertama dari geliat pertumbuhan mazhab Syi’ah di Kota Medan. Mereka tidak membangun masjid, tetapi membaur dengan masjid-masjid yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Sebab secara fikiyah, mereka tidak ada masalah melaksanakan shalat di masjid masyarakat yang ada disekitarnya. Masyarakat tidak tahu mereka bermazhab Syi’ah, karena tidak menampakkan ke-Syi’ahanya demi menjaga harmoni. Mereka hanya Nampak Syi’ah di rumahnya sendiri atau di Husainiyah. Rizal, Ridwan, Hasan, dan Fadillah, wawancara, 21/5/2016 Pada saat ini anggota Syi’ah Sumatra Utara 600 KK dan 200 KK di Kota Medan, yang tidak ber-KK jumlahnya sekitar orang di Kota Medan dan di Sumut. Tidak semua yang ber kepala keluarga KK sudah bermazhab Syi’ah. Banyak juga yang isterinya masih menurut petinggi Aliansi Nasional Anti Syi’ah ANAS Kota Medan, anggota Syi’ah sekitar orang. Tidak jelas bagaimana cara memverifikasinya Yusuf, Wawancara, 3/6/2016. Yayasan Islam Abu Thalib memiliki perpustakaan umum dengan judul buku keagamaan dari berbagai penulis dalam dan luar negeri, Suni maupun Syi’ah. Perpustakaannya sederhana. Tempatnya luas, walaupun tanpa meja baca dan kursi. Jika diskusi, mereka lesehan. Perpustakaanya menyatu dengan kediaman pimpinan yayasan. Di samping ruang perpustakaan terdapat beberapa kamar tidur untuk para aktifis. Gedung ini sudah milik sendiri. Yayasan Islam Abu Thalib dipimpin oleh Candiki Repantu, seorang guru, antropolog dan dosen perguruan tinggi di Medan dan Lokseumawe. Kegiatannya adalah do’a malam senin, rabu dan jum’at, pengajian, dialog, diskusi, kajian filsafat dan teologi Islam. Dalam taklim yang peneliti ikuti, terlihat Candiki Repantu sangat familier dengan dalil dan pendapat ulama Suni. Ia sendiri tidak membedakan asal dalil, seperti dituduhkan anti Syi’ah. Rizal dan Repantu, Wawancara 12/5 2016. Sumber Pertumbuhan Syi’ah Di Kota Medan Sumatra Utara, oleh Wakhid Sugiyarto ************************ Ayo Gabung dengan Sekarang Juga! Artikel Syiah Lainnya Medan, IDN Times - Banyak masjid indah di Sumatera Utara. Tak sedikit pula yang popular di dunia maya karena keindahan arsitektur maupun millenials, masjid pun bukan hanya sekadar tempat ibadah, namun juga tempat wisata yang sering hanya wisatawan lokal, namun juga masjid-masjid di Sumatera Utara yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Baca Juga 9 Meme Perbedaan Drama Korea Vs Sinetron Indonesia, Bikin Cekikikan! 1. Masjid Agung KisaranDeskgramMasjid Agung H. Ahmad Bakrie merupakan masjid agung yang berada di Kabupaten Asahan, tepatnya di Jalan Lintas Sumatera, Desa Sidomukti, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten ini berdiri di tanah seluas 4 hektar, diatas tanah milik PT. Bakri Sumatera Plantation BSP.Pada saat itu tanah ini merupakan tanah Hak Guna Usaha HGU yang dimiliki PT tersebut kemudian di wakafkan untuk pembangunan nama dari masjid ini merupakan suatu bentuk penghormatan dari mendiang H. Ahmad Bakri, ayah dari Abu Rizal Bakri. Pembangunan Masjid Agung H. Ahmad Bakrie menghabiskan dana sekitar Rp. 68 miliar, dan didanai oleh pemerintah Asahan dari dana APBD Anggaran Pembangunan Daerah.Pembangunannya memerlukan waktu sekitar 4 tahun, dari tahun 2011 hingga tahun Masjid Azizi Tanjung Pura LangkatTravelling YukLetaknya sekitar 75 KM dari Medan, ibukota propinsi Sumatera Utara, tepatnya di kecamatan Tanjung Pura, Langkat, terdapat sebuah bangunan bersejarah dari peninggalan Kesultanan Melayu fisik dari kebesaran Kesultanan Melayu Langkat ini adalah berupa bangunan masjid yang memiliki arsitektur bernilai tinggi, yaitu masjid Azizi Tanjung Azizi Tanjung Pura ini didirikan pada dua generasi kesultanan masjid yang pertama dilakukan pada tahun 1899 Masehi atau 1320 Hijriah oleh sultan Langkat pertama Sultan H Musa Almahadamsyah 1840 – 1893. Setelah Sultan Musa wafat pembangunan masjid diteruskan oleh anaknya yaitu Sultan Tengku Abdul Aziz Jalik Rakhmatsyah 1893 – 1912, dan selesai pada 13 Juni 1902 atau 12 Rabiulawal 1320 H, yang kemudian masjid ini dinamai oleh nama sang sultan Abdul Masjid Raya Al Osmani Labuhan Deli MedanArmansyah PutraMasjid Raya Al Osmani berada di Jalan K L Yos Sudarso, Kelurahan Pekanlabuhan, Kecamatan Medanlabuhan, Kota Medan, Sumatera cantik yang terkenal dengan nama Masjid Labuhan ini berada di tepi jalan yang padat kendaraan, sekitar 21 kilometer jaraknya dari pusat Kota Medan. Para pengguna jalan yang melintas pasti akan menoleh sebab warna kuningnya begitu mencolok, khas yang sudah menginjak 164 tahun tak memudarkan keelokan masjid di kawasan Medan Utara ini. Masjid Al Osmani adalah rumah ibadah Islam tertua di Kota Medan, buah tangan arsitek Jerman GD itu, Sultan Deli Mahmud Perkasa Alam yang tak lain putra kandung Sultan Osman Perkasa Alam meminta Langereis merenovasi masjid yang masih berbentuk bangunan sederhana dari kayu dalam tempo tiga sultan terpenuhi dengan lahirnya bangunan megah yang kuat unsur arsitektur India, Tiongkok, Timur Tengah, Eropa dan Melayu."Masjid dibangun Sultan Deli ke tujuh, Sultan Osman Perkasa Alam. Awalnya hanya rumah panggung dari kayu seukuran 16 kali 16 meter. Tujuan didirikan masjid untuk mengumpulkan umat Islam, suku Melayu, dan sebagai tempat pertemuan sultan dengan rakyatnya,” kata Ketua Pengurus Masjid Ahmad Masjid Raya Al Mashun Raya Al Mashun atau Masjid Raya merupakan satu dari beberapa ikon kebanggaan masyarakat Kota yang berlokasi di inti Kota Medan atau tepatnya di Jalan Sisingamangaraja Medan ini memiliki konsep arsitektur perpaduan dari tiga satu keistimewaan Masjid Raya Al Mashun memang terletak pada desain arsitekturnya. Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan dari Asia, Eropa dan juga Timur Raya Al Mashun dibuat oleh arsitek asal Belanda dan pertama kali dibangun pada tahun 1906 dan selesai di tahun Raya Al Mashun dibangun 1906 oleh Sulan Deli yang kesembilan yaitu Sultan Makhmud AL Rasyid dan selesai tahun 1909 dan diresmikan pada hari Jumat di tahun yang ini bukanlah masjid pertama yang dibangun oleh Sultan Deli di Medan, masjid pertama yang dibangun adalah Masjid Al Osmani yang berada di Medan Masjid Raya Al Abror PadangsidimpuanMasjid Dunia Masjid Raya Al Abror atau yang akrab disebut Mesjid Raya Padangsidimpuan adalah mesjid terbesar di kota ini menghabiskan waktu pembangunan selama 6 dimulai sejak 1966 hingga 1972 dan menghabiskan biaya sekitar Rp 30 pertama kali, Masjid Raya Al Abror tidak sebagus ini. Sejak tahun 1995 mesjid ini terus mengalami rekonstruksi hingga sekarang telah memiliki menara sepanjang 70 meter yang menjadi menara masjid tertinggi di Kota Raya Al Abror berada tepat di pusat kota Padangsidimpuan. Sehingga tak sulit menemukan lokasi menuju mesjid ini bila Anda ingin berkunjung. Masjid ini juga menjadi tempat kumpul beberapa lembaga pengurus seperti BAZDA Badan Amil Zakat Daerah dan komunitas-komunitas serta para relawan yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan. Baca Juga Selain Danau Toba, Ini 10 Danau Terbesar di Indonesia Masjid ini didominasi warna-warna lembut seperti biru muda, krem, kuning, dan hitam pada bagian kubah Foto Helinsa Rasputri/kumparanTak cuma sebagai tempat beribadah bagi umat Islam, kini masjid dikenal juga sebagai tempat wisata religi yang patut untuk disambangi ketika melancong. Biasanya, adat dan budaya yang berkembang di suatu daerah akan memberikan sentuhan tertentu bagi bangunan ikoniknya, termasuk masjid. Medan misalnya, kehadiran masjid di kota ini bukanlah barang baru. Sejak masuk dan berkembangnya Islam ke Sumatera melalui Aceh, satu per satu masjid mulai berdiri. Ada yang bertahan hingga kini dan berusia ratusan tahun lamanya, ada pula yang dijadikan sebagai ikon wisata. Dihimpun dari berbagai sumber, berikut kumparan rangkum empat masjid tua dan ikonik yang paling bersejarah di Kota Medan. 1. Masjid Raya Al-MashunMasjid Al Mashun dikenal pula sebagai Masjid Raya Medan Foto Helinsa Rasputri/kumparanMasjid ini didirikan pada 1906 oleh Sultan Deli IX atau yang dikenal pula sebagai Sultan Ma'moen Al Rasyid Perkasa Alam Syah. Masjid Raya Al Mashun selesai dibangun pada 1909, kemudian diresmikan pada 15 September Masjid Raya Al Mashun menggabungkan gaya Turki, Arab, Eropa, dan India. Masjid itu didesain oleh JA Tingdeman, seorang arsitek asal Belanda yang dipanggil secara langsung oleh sultan. Menariknya, masjid ini dibangun dengan biaya dari kantong pribadi sang sultan. Penggunaan warna biru dan kuning yang digunakan pada bangunan masjid menjadi salah satu ciri budaya Melayu yang disematkan dalam Masjid Raya Al Mashun. 2. Masjid Al OsmaniTempat wudhu di Masjid Raya Al Osmani. Foto Ade Nurhaliza/kumparanMasjid Raya Al-Osmani berdiri pada tahun 1854. Masjid ini dibangun oleh sultan ke-7 Kesultanan Deli, yakni Sultan Osman Perkasa Alam. Mulanya masjid tersebut berbahan kayu dengan ukuran 16x16 meter berbentuk rumah panggung. Namun, kini setelah kurang lebih tujuh kali renovasi, Masjid Raya Al-Osmani memiliki luas hingga 2 hektare. Kapasitasnya mencapai orang, dengan rincian 500 orang pada bagian depan dan 500 orang di bagian belakang. Meski sudah berusia lebih dari 100 tahun, Masjid Raya Al-Osmani baru dinobatkan sebagai salah satu cagar budaya Kota Medan pada tahun 2016. Menariknya, sebelum pandemi, masjid ini selalu menyajikan bubur pedas sebagai panganan berbuka setiap hari Kamis saat puasa. 3. Masjid Lama Gang Bengkok Mesjid Tua Gang Bengkok Foto Ade Nurhaliza/kumparanSelain Masjid Raya Al-Osmani, Masjid Lama Gang Bengkok yang berlokasi di kawasan Kesawan juga punya warna kuning yang cerah dan berani. Masjid ini awalnya hanyalah sebuah surau atau langgar dengan bangunan sederhana. Lalu pada Masehi, surau tersebut dibangun menjadi sebuah masjid oleh seorang dermawan berkebangsaan China, Tjong A Fie. Setelah dibangun oleh Tjong A Fie, masjid tersebut diserahkan ke Sultan IX Deli, Makmun Al Rasyid Alamsyah masjid itu merupakan kombinasi dari beberapa kebudayaan, seperti China, Melayu, dan Persia. Atapnya dibuat menyerupai kelenteng. Lalu ada pula simbol lebah khas Melayu, serta simbol lingkaran awalan tanpa akhir khas Persia yang bisa kamu temukan di dekat plafon bagian dalam masjid. 4. Masjid Datuk Badiuzzaman SurbaktiDidirikan pada 1885, Masjid Datuk Badiuzzaman Surbakti kini sudah berusia sekitar 135 tahun. Sekilas, bangunannya tak nampak seperti masjid, tapi apabila kamu lihat lebih dekat, bangunan ini menggunakan warna kuning dan hijau yang khas adat Melayu. Atapnya sendiri berbentuk limas, bukan kubah seperti yang biasa kamu temukan di masjid-masjid lainnya. Masjid ini menggunakan nama salah seorang pahlawan yang memimpin perlawanan terhadap Belanda, Datuk Badiuzzaman Surbakti, anak dari Raja Sunggal selain dijadikan sebagai tempat ibadah, masjid ini juga digunakan sebagai tempat musyawarah ketika menyusun rencana perang. Nah, yang unik lagi dari masjid tersebut adalah kabarnya pembangunannya dibuat menggunakan semen dan putih telur, sehingga merekat kuat dan tak mudah rusak. Wah, unik, menyambangi keempat masjid ini saat wisata religi ke Medan usai pandemi? Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.

masjid syiah di medan